Kamis, 30 Agustus 2012

TUKMAS, PRASASTI NUANSA COKLAT BISKUIT

Wednesday, October 5, 2011 at 9:52pm

(Foto-foto dari note ini diambil dari kamera mas cuk riomandha, karena ketika mengunjungi situs ini bersama mas cuk, aku tidak punya kamera !)

Bermula dari “legenda” yang berulang-ulang ditulis di buku pelajaran SD dan SMP, nama Tukmas menjadi biang penasaran tersendiri. Setelah ketemu dengan BOL BRUTU, keinginan lama itu timbul kembali, karena baru sekali ini ketemu dengan grup yang hobi memburu batu.

Hanya berbekal informasi singkat di buku sejarah SD yang sekarang menjadi rumah dinas rayap-rayap pemangsa kertas dan situs website BP3, dinyatakan bahwa batu legendaris itu ada di dusun dakawu, desa lebak, kecamatan grabag, magelang. Dari situs kanjeng kyai google yang bermata dewa, didapatkan koordinat lokasi desa lebak yang ternyata tidak jauh dari rumahnya Rafael.

Pencarianpun tak berlangsung lama, setelah melalui proses penyidikan beberapa warga dengan melibatkan piranti kekerasan (maksudnya kompressor untuk memompa ban belakang yang gembos) untuk menuju lokasi, prasasti legendaris itu pun ketemu. Lokasi yang fantastis, perbukitan hijau yang dikelilingi rumpun-rumpun mendong yang baru saja ditanami, pemandangan gunung para dewa yang dihampari rerrumpunan hijau yang bergoyang oleh nafas para dewa dari langit (halah, sok puitis ! …. Pret ah). Lokasi ini cocok sekali untuk berburu ilham nomer atau mengobati pikiran sedang ruwet…. Hehehe. Jalan setapak yang cukup mepet untuk satu mobil pun diterjang dengan kekhawatiran tidak bisa memutar arah mobil untuk kembali. Ternyata di depan lokasi prasasti tukmas malah cukup luang untuk parkir beberapa mobil.

Mobil merah membelah rerumputan hijau

Tetapi ternyata kami belum cukup beruntung untuk ekspedisi pertama, karena lokasi prasasti menjadi satu lokasi dengan PDAM Kalimas dan kuncinya dibawa pak alias (pak diyar) yang sekaligus juga karyawan PDAM. Kiranya tidak bijaksana bila berlagak menjadi atlet loncat galah untuk masuk ke lokasi yang dikelilingi kawat berduri.

Dua minggu kemudian, aku dengan mas cuk mengulangi lagi ekspedisi ini. Mas Rafael pamit tidak bisa ikut karena ada turnamen golf, doi memang hobi jadi organiser orang maen golf, tidak ada batu … bola golf pun jadi.

Pak Diyar dengan antusias menerangkan hal-ihwal prasasti tukmas menurut versi beliau. Batu yang ukurannya cukup besar itu tampak luar biasa, seksi, coklat muda, agak basah, mulai tumbuh kerutan, bibir agak pecah-pecah dan jika dijilat mungkin ada rasa biskuit stroberi sekaligus pedas ala merica (karena ada semut merah berbaris di atas batu).

tampak renyah dan basah .....


sudah bertahun-tahun keinginan untuk bertemu batu legendaris ini, baru terwujud di usiaku yang kepala tiga yang beranjak ke kepala empat. Batu coklat biskuit agak basah dengan lambang-lambang hindu tertua di jawa yang berdasarkan analisa ahli paleografis, usianya kira-kira 1500 tahun. Di lokasi prasasti ini terdapat mata air yang sekarang di kelola PDAM dan debitnya tidak pernah surut.

Kalimas Compagnie ... and always blue !


Ribuan tahun yang lalu, mata air ini selalu mengalir memberi penghidupan para leluhur-leluhur yang tak dikenal hingga era milenium ini. Mata Air ini memang layak untuk dihormati, karena dalam alam pikiran jawa, mata air disamakan dengan ketuban sang ibu yang memberi kehidupan kepada manusia. Air adalah unsur pertama dari hidup dan titik tolak pertama dari filosofi “sangkan” atau "asal". Para pande keris jaman dulu menggunakan air dari tuk (mata air) atau tempuran sungai sebagai sarana untuk “nyepuh” keris-keris buatannya. “Nyepuh” adalah proses pemanasan keris yang hampir jadi, pada suhu sekitar 800 derajat Celcius (membara warna merah tua) dan dimasukkan kedalam air dengan tujuan teknis untuk memperkuat bilahnya. Tujuan filosofisnya adalah penggabungan empat unsur sangkan-paran untuk penciptaan itu sendiri, yaitu api, air, batu (mewakili tanah) dan udara. Air dari Tuk adalah simbol dari air ketuban sang ibu, batu lumpang wadah air untuk nyepuh sebagai simbol dari rahim sang ibu, udara pemanas ububan sebagai simbol ruh atau nafas, api dari arang sebagai simbol dari kehendak si jabang bayi atau kehidupan itu sendiri (energi).



Gambar yang diukir di batu coklat basah ini juga menarik, di sudut kiri atas ada gambar yang menyerupai alat pertanian yang mirip bendho (pencacah rumput) dan sebuah senjata tikam pendek (prototipe keris ?). Yang dibagian tengah terdapat gambar bagan yang tidak kupahami maksudnya, dan disusul gambar kapak dan senjata mirip gada.

Promosi korporat yang sebaiknya jangan ditiru


di bagian paling kiri terdapat gambar roda (cakra ?), dan berikutnya sebuah benda yang mirip kerang yang difungsikan sebagai alat musik. Dibawahnya ada tambahan prasasti kontemporer dari PT Madiyo – Magelang.

Semacam tidak mampu kubaca


 




Hasil kajian para ahli berupa transkripsi yang disusun dari empat baris sajak, sebagai berikut:
(itant) uśucyamburuhānujātā
Kwacicchilāwālukanirgateyam
Kwacitprakĩrnnā śubhaśĩtatoyā
Samprasratā m(edhya) kariwa gańgā   
Terjemahan sajak yang terdiri dari empat baris tersebut adalah, Bermula dari teratai yang gemerlapan dari sini memancarlah sumber air yang mensucikan, air memancar keluar dari sela-sela batu dan pasir, di tempat lain memancar pula air sejuk dan keramat seperti (sungai) Gangga.

Di bagian paling kanan terdapat gambar 4 buah padma yang mungkin melambangkan empat mata air yang sampai sekarang masih tetap mengalir deras.






di bagian belakang prasasti terdapat ukiran tambahan yang nggak ancient dari mas verijatno – solo. Menurut informasi dari pak alias, sang ”seniman” pernah diperkarakan dengan denda berat dan bonus menghuni hotel prodeo.

adegan ini jangan ditiru


Pak Diyar .... Den Alias




Nah, ini yang penting …. Mempunyai kesempatan untuk meraba prasasti legendaris ini, impian yang lama akhirnya terwujud juga. Serasa terhubung dengan masa lalu …. Sebuah kapsul waktu.

Sampai jumpa di petualangan berikut …..

===== Nyandi pangkal Nyandu, Tidak Nyandu, Nyandi kembali =====
(meminjam dan menggubah istilah dari Cuk Riomandha)

Ucapan terima kasih kepada mas Cuk Riomandha, karena kameramu dan foto2mu, ekspedisi ini dapat diabadikan, insyaallah bulan depan aku menghadap koperasi untuk kredit beli kamera, mohon doa restunya mas cuk riomandha .....

The Great Warrior From Japara (Jung Mara)

Monday, August 15, 2011 at 8:57pm
Kota Jepara, kota yang terkenal karena kerajinan ukirnya yang mempunyai ciri khas sangat jauh berbeda dengan ragam ukiran pedalaman mataraman. Ukirannya menceritakan cita rasa masyarakat yang lebih metropolis dan dinamis pada jaman itu. Sebenarnya blusukan Bol Brutu kali ini adalah mengunjungi seorang makam seorang Ksatria hebat dari Jepara, RATU KALINYAMAT, dimana dalam buku-buku sejarah pelajaran sekolah, tokoh hebat ini kurang banyak dikupas. Sebaliknya, Sultan Agung yang hanya dua kali menyerbu batavia melalui jalan darat diceritakan dengan bertubi-tubi. Bila dibandingkan, Ratu Kalinyamat menyerbu portugis di selat malaka sebanyak TIGA kali !! Dan tentu memerlukan biaya yang lebih besar, mengingat medan pertempurannya sangat tidak dikuasai orang pedalaman : LAUT !!. Dan medan pertempuran kedua adalah daratan singapura ....
Makam Ratu Kalinyamat ada di kota Mantingan dengan arsitektural masjid yang dihiasi ukiran yang luar biasa dan menunjukkan kemuliaan beliau yang perkasa. Diam-diam aku sangat mengidolakan tokoh ini, dalam kenyataannya, pejuang wanita jauh lebih tangguh daripada pejuang pria.
Perjalanannya cukup mudah, dari arah selatan menuju jepara, ketika menemui bundaran Ngabul, ambil arah jalan cabang ke kiri (Jalan Sunan Hadirin). Teruuuuusss saja sampai nanti menemui komplek makam besar di tanah tinggi tepat di kanan jalan anda.

Gerbang masuk makam Sunan Hadirin dan Ratu Kalinyamat


Arsitektural Masjid Mantingan dan Makam Mantingan sangat khas pesisiran, yaitu menggunakan batu bata dan kualitas batubata di wilayah pesisiran memang lebih baik daripada dari daerah pedalaman. Gerbang masuk juga berbentuk gerbang padureksan atau bentuk meru

Gerbang masuk berbentuk Meru


Komplek makam ini bagian dalamnya sudah diperbaharui dengan citarasa era kolonial dengan bantuk tiang yang khas. Tidak ada keterangan, kapan makam ini dipugar pada masa kolonial itu dan siapa pemugarnya.

Serambi makam yang bercita-rasa arsitektur era kolonial


Hal yang sangat menarik ketika memasuki makam ini adalah : HIASAN DINDINGNYA ! yang terbuat dari bahan yang kualitasnya jauh lebih baik dibandingkan dengan yang ada di masjid al-manaar kudus dan kualitas tatahan yang prima. nah, ini beberapa contoh hiasan yang ditempel di makam sunan hadirin dan istrinya, Ratu Kalinyamat :

Hiasan dinding dengan ukiran sulur model majapahit


Nylempit !!


Pintu masuk cungkup makam Ratu Kalinyamat & Suaminya


Setelah selesai berdoa untuk beliau yang kukagumi, perjalanan dilanjutkan mengunjungi masjid mantingan yang terletak satu komplek dengan pemakaman ini. Oya, sebelum meninggalkan pemakaman, ada satu relik dari jaman hindu/budha yang disimpan di situs ini, yaitu sebuah Jaladwara yang disemen tepat di depan gerbang pintu masuk makam.

Sebuah Jaladwara Kuno

Masjid Mantingan ini tidak kalah dahsyat, hal yang sangat menyita mata adalah hiasannya yang luar biasa itu. Hiasan ini ditempelkan di tembok masjid merata di depan masjid. Nah, inilah foto-fotonya :

Serambi Masjid


Across The Time ....


Ok, itu sekedar pengantar dari pandangan jarak jauh, sekarang langkahkan kaki mendekat dan ....

Ragam ukiran taman sari, sering diterapkan pula pada hiasan kinatah mas keris ataupun pendok keris


Gambar seekor gajah yang tersamar ada di tengah hiasan ini


Pola Ragam hias geometris


Selesai menikmati karya maestro tempo doeloe yang dahsyat itu, kakiku melangkah masuk ke dalam masjid mantingan. Suasana sepi sekali, tidak ada seorangpun yang ada di dalam masjid .... Suasana di bagian dalam memang berbeda bila dibandingkan dengan masjid kudus, lebih sempit tetapi sisa-sisa kemewahannya masih terasa

Bagian dalam masjid yang terasa dingin walaupun diluar sangat panas


Ada satu hal yang menarik dari ukiran2 tempel ini, yaitu sebuah hiasan diatas mihrab masjid yang bertuliskan aksara jawa. Sayangnya bentuknya kurang jelas, so, jadi kufoto saja dan nanti dibaca dengan lebih tenang bersama-sama

Prasasti teracotta diatas mihrab masjid


Pertama kali Jepara turut menyerbu ke malaka pada tahun 1512-1513, tetapi serangan itu gagal dan menyebabkan Armada perang demak di Jepara nyaris hancur. Serangan kedua dilakukan tahun 1550 yang kali ini menyambut ajakan raja Johor menyerbu Malaka. Serangan kedua ini Jepara lebih bersikap mandiri, karena Demak pada waktu itu dikatakan sudah berkurang kekuatannya. Jumlah armada Jepara yang berangkat mencapai 40 buah kapal perang dan membawa 4000-5000 prajurit bersenjata. Dalam serangan besar itu, salah seorang pembesar Jawa gugur, dan ”espada e hum cris Guarnacido de ouro” (pedang dan kerisnya berhiaskan emas) jatuh ketangan kaum Kristen. Ketika pasukan Jawa melihat pemimpinnya gugur, mereka lari ke pantai dan berusaha naik kapal cepat-cepat, sehingga pertempuran dilanjutkan di darat dan di air. Dua ribu orang Jawa gugur dan seluruh perbekalan mereka hilang: ”artilleria, muniçoes, mantimentos e mais cosas”  (meriam, senapan, mesiu, bahan makanan dan lain sebagainya).

Pada tahun 1573 ia sekali lagi diajak melakukan ekspedisi dan menyerang Malaka. Kali ini oleh ”Achim tyranno, insolete e poderoso” (tiran dari Aceh yang kurang ajar dan kuat). Sekalipun ratu Jepara sangat bersemangat untuk berjuang melawan orang Portugis, armadanya tidak muncul pada waktunya. Keterlambatan ini tidak sengaja sangat menguntungkan orang Portugis. Andai kata orang Melayu dan orang Jawa menyerang bersama-sama, Malaka tidak dapat dielakkan dari kehancuran (Couto, Da Asia, IX, xvii).

Armada dari Jepara baru muncul di Malaka pada bulan Oktober 1574 (Couto, Da Asia, IX, xix). Kali ini armada itu berjumlah 300 kapal layar, 80 kapal di antaranya berukuran besar, masing-masing berbobot 400 ton. Awak kapal terdiri atas 15.000 orang Jawa pilihan, dan juga terdapat banyak sekali perbekalan, meriam dan mesiu.
Pemimpinnya, ”Regedor principal de seu Reyno” (pimpinan pemerintahan tertinggi kerajaan) disebutnya ”Quilidamâo”, mungkin salah ejaan untuk Kiai Demang (Laksamana ?). Armada itu memulai serangan dengan salvo tembakan yang seolah-olah hendak membelah bumi. Keesokan harinya jenderal Jawa mendaratkan pasukannya dan menyuruh menggali parit-parit pertahanan. Suatu serangan yang dilakukan kaum Portugis sangat mengecilkan hati pasukan Jawa. Ketika pihak Jawa melakukan serangan dengan armadanya, 30 kapal besarnya malahan terbakar. Mereka selanjutnya membatasi diri dengan blokade laut dan mendirikan rintangan-rintangan tinggi di daerah perairan. Pihak Portugis baru berhasil menembus rintangan ini setelah melakukan serangan berkali-kali. Setelah itu pasukan Jawa bersedia mengadakan perundingan, tetapi yang melakukannya bukanlah jenderal mereka melainkan seorang rohaniawan yang disebut ”dato” (datu ?). tuntutan orang Portugis dianggap terlalu berat dan ditolak. Tetapi perundingan berlangsung terus. Setelah orang Portugis dapat merampas enam kapal Jawa yang penuh dengan bahan makanan kiriman dari Jepara, pasukan Jawa, yang semula merupakan pihak pengepung, secara berangsur-angsur menjadi pihak yang dikepung. Mereka terpaksa segera melakukan gerakan mundur, sehingga memberi kesempatan kepada orang Portugis untuk menyerang, dan menimbulkan kerugian lebih berat di pihak pasukan Jawa. Dalam pada itu, kekhawatiran akan kembalinya orang Aceh yang tidak begitu disukai oleh orang Jawa itu merupakan faktor penting. Di sekitar Malaka saja dapat ditemukan 7.000 makan orang Jawa; tetapi kekalahan seluruhnya diperkirakan sebesar 2/3 dari kekuatan yang berangkat dari Jepara. Pengepungan atas pasukan Portugis berlangsung tiga bulan (Da Asia, Couto).

Komplek makam ini diselesaikan pembangunannya setelah sang pembunuh suami ratu kalinyamat, Arya Penangsang berhasil dimusnahkan oleh pasukan dari pajang. Sebuah bukti tanda cinta beliau kepada sang suami, sayangnya, beliau sampai akhir hayatnya tidak dikaruniai seorang putera pun. Sehingga pengganti tahtanya adalah Pangeran Jepara, putra Hasanuddin dari Banten. Beliau Meninggal dunia sekitar tahun 1574-1580.

Marai Ngileeeerrrr


Kerajaan Jepara berakhir setelah mengalami serangan berat berkali-kali dari Mataram, dan akhirnya jatuh pada tahun 1599 (Tiga gelombang serangan besar). Dengan demikian, berakhirlah kisah kerajaan Jepara yang hebat itu.

Ok, Sampai jumpa lagi di perjalanan berikut ..... ingat : BLUSUKAN SEHAT UNTUK KEJIWAAN ANDA !

Kembali menyambangi Candi Miyono (17 September 2011)

Hari Sabtu, 17 September 2011.

Seminggu pertama setelah melewati liburan panjang di Jogja, dan seperti biasa, ritual bangun kesiangan setelah semalam bergumul dengan mimpi menjadi koki masak. Pagi hari, jam 09.00 WIB, Segala persiapan perburuan situs kuno sudah masuk ke dalam tas pada malam sebelumnya. Dari koran jawa pos hari jumat, 16 September 2011, aku membaca berita tentang kegiatan ekskavasi candi Miyono yang berlangsung dari tanggal 12 September sampai dengan 19 September 2011. Menurut informasi, hasil penggalian terkini telah berhasil menemukan bentuk pondasi candi induk dan candi perwara. ah, tentu menarik sekali menjadi acara hari libur dengan kembali menghampiri candi miyono untuk ketiga kalinya.
Setelah mandi secukupnya (alias sikat gigi, cuci muka, dan ritual diatas kakus secukupnya), aku langsung berangkat dengan diantarkan oleh "Si Belalang Tempur" alias motor grand butut '92 yang selalu siap berpetualang bersama tuannya. Cuaca hari itu kebetulan sangat bersahabat, panas juga nggak, hujan juga enggak. Singkat kata, suasana memang sangat cocok untuk menggelindingkan Si Belalang Tempur menjelajah ke Kayen.

Perjalanan ditempuh dalam waktu kira-kira satu jam dengan kecepatan rata-rata 50 km/jam saja. Plus berhenti dua kali untuk sekedar makan pagi dan membeli rokok sebagai teman ngobrol dengan tim Balai Arkeologi di lokasi. Rute yang ditempuh : Kudus - Pertigaan Bulung - Jalan Raya Bulung - Kayen - lurus saja - Pertigaan Tambak Romo - Desa Miyono - Makam Ki Ageng Darmoyono.
Rute jalan desa miyono menuju lokasi candi miyono sepanjang 2 km sudah diperkeras secukupnya dengan batu-batu kapur yang memang mudah ditemukan di lokasi ini. Sepanjang jalan 2 km sudah mulai banyak petani yang mempersiapkan lahannya untuk ditanami, karena bulan september diperkirakan masuk musim pancaroba dengan ditandai 2 kali hujan besar yang mengguyur pantura beberapa hari sebelumnya.

Lokasi Ekskavasi pada hari Sabtu 17 September 2011

Tiba di lokasi, Banyak tenaga kerja yang dilibatkan dalam ekskavasi ini, dengan sebagian besar melibatkan tenaga petani desa setempat. Di bandingkan dengan kunjunganku yang terakhir, bentuk pondasi sudah mulai tampak. Ketika sampai di lokasi, aku disambut dengan obrolan yang sangat bersahabat dari tim Balai Arkeologi Yogyakarta. Dua orang tim yang mengajakku ngobrol adalah Mas Bagus dan Bapak Gunadi selaku pemimpin ekskavasi. Dari bapak Gunadi lah, aku mendapatkan informasi yang cukup komplit mengenai perkiraan bentuk candi ini. Menurut beliau, penemuan candi ini mempunyai arti yang penting. Candi-candi yang ditemukan di pantura bisa menjadi penyambung mata rantai yang hilang tentang sejarah masuknya agama hindu dan buddha dari wilayah pesisiran utara jawa yang akhirnya meresap jauh ke selatan jawa. Usia candi ini belum dapat diperkirakan, bisa masuk pada masa awal masa hindu-buddha atau bisa masuk pada jaman majapahit. Dari sekedar obrolan santai tadi, ada yang berharap semoga prasasti peresmian candi ini berhasil ditemukan.

Bapak Gunadi Sang Team Leader ... Ngobrol2nya sangat asyik !!


Menurut pak Gunadi, kalau berhasil menemukan prasastinya, akan menjadi suatu keberuntungan yang luar biasa. Lingga dan yoni candi ini sudah sulit dilacak keberadaannya, karena sudah dipindahkan ke kawedanan Kayen pada tahun 1975. Setelah melewati pergantian pemegang kepemimpinan, kedua benda penting itu tidak tercatat siapa yang menyimpannya. Untuk arca masih lebih beruntung, karena masih disimpan di rumah pemuka warga setempat bersama dengan temuan-temuan penting lainnya berupa lampu blencong perunggu, perhiasan, tembikar dan lain-lain.

Pak sukahar (pak alias) dan struktur candi miyono


Lokasi yang sama setelah digali


Candi Utama dipotret dari selatan masjid


Menurut perkiraan pak gunadi, kemungkinannya tipis untuk berhasil menemukan prasasti. Lokasi penempatan prasasti biasanya ada di pojok pagar candi, padahal pagar candi bisa dikatakan sudah banyak mengalami pembongkaran di masa lalu. Ditambah dengan kondisi candi yang terkubur hanya dalam kedalaman 70 cm dari permukaan tanah. Tapi, sampai sekarang, belum ada laporan yang tercatat mengenai penemuan prasasti oleh warga. Jadi, semoga saja prasasti itu masih ada sehingga dapat ditentukan kapan candi ini diresmikan .... semoga

Candi Perwara I (barat Masjid Miyono)


Candi Perwara I dipotret dari arah selatan

Ukuran candi induk diperkiran berukuran 7 x 7 meter persegi dan candi perwara berukuran 4,5 x 4,5 meter persegi. Posisi candi perwara ini tepat berhadapan dengan candi induk (tepat di sebelah barat candi induk). Kemungkinan masih ada dua candi perwara lagi yang belum ditemukan. Candi ini pasti bersifat hindu dengan ditemukannya arca Siwa pada tahun 90-an, tergeletak di dekat sungai yang ada di sebelah utara candi. Sampai dengan hari ini, belum dapat dipastikan lokasi pintu masuk candi, karena sebagian candi induk berada di bawah masjid yang baru 80% selesai dibangun.

Sebagian Struktur candi yang berada di bawah serambi masjid


Struktur Candi Utama dipotret dari serambi masjid


Struktur candi utama dipotret dari sebelah barat


Temuan yang menarik pada hari itu, berupa pecahan-pecahan gerabah yang hanya terkubur di kedalaman 40 cm dari permukaan tanah. Temuan ini sempat menarik beberapa warga untuk melihatnya dari dekat. ok, ini fotonya :

Temuan Gerabah dari barat candi utama


Proses penggalian ini selanjutnya akan dikaji kemungkinannya untuk penggalian yang lebih luas. Sebagai catatan, beberapa temuan pecahan kecil juga ditemukan di sungai yang ada di utara situs ini. Candi ini sampai sekarang belum ditemukan batas pagarnya dan harapannya bisa digali pada skala penggalian yang lebih luas. Penggalian ini tetap memberdayakan masyarakat, sehingga dalam proses penggalian ini, sebelumnya ada rembug desa yang membahas perlu atau tidaknya situs ini digali. Kesanggupan dan kesungguhan masyarakat untuk menjaga situs ini adalah kunci utama pelestarian situs kuno ini.

Struktur tangga (?) di sebelah barat candi perwara


Ok, sampai di sini dulu ... pemberontakan sudah menghebat dari dalam perut. Setelah berpamitan seperlunya, bergeraklah belalang tempur menuju bank .... eh, warung terdekat untuk memangsa beberapa lele bakar yang kurang beruntung terpilih sebagai penghuni perutku. Selesai makan, dan menghisap rokok secukupnya, perjalanan dilanjutkan untuk kembali ke kudus ....... ok ........ sampai jumpa di petualangan berikutnya.

CANDI ORA LUNGO NGENDI-ENDI .... NYANDI ITU NYANDU !!! (Meminjam istilah @cuk riomandha)

nDolani Ki Ageng Darmoyono ing Candi Miyono


Seperti yang direncanakan semula, nanti hari sabtu harus blusukan ke wilayah kayen dan sekitarnya. Hanya berbekal informasi dari hasil browsing  dan tekad sregep takon, berangkatlah kami bersama honda grand butut '92 menuju jalan raya pati. Sebenarnya sudah terlalu siang untuk berangkat, karena tidak mampu menghindari ritual hari libur : Tangi kawanen, jadi tepat keluar dari rumah jam 10.00 WIB, setelah mandi dan sikat gigi seperlunya.
Jalan yang ditempuh lumayan jauh dari kudus. Berangkat dari kota kudus menyusuri jalan raya pati-kudus sampai ke pertigaan Bulung (pertigaan ini terletak tepat ditengah-tengah antara kudus dan pati). Dari pertigaan Bulung bergerak menuju selatan ke arah desa kayen yang letaknya berdekatan dengan gunung kendeng (Desa Kayen terletak di utara barisan bukit kendeng di wilayah pati).
Setelah 3 kali kebablasen  dan 5 kali berwawancanda untuk menggali informasi dari warga yang ditemui di jalan, tibalah sang honda grand '92 bersama tuannya di mulut desa Miyono yang terletak di pasar baru kayen. Jalan yang ditempuh pun tak kalah asyiknya, cocok untuk simulasi berperahu di tengah ombak badai alias jalan bergelombang serta berlubang-lubang. So, yang sakit gigi atau barusan sunat disarankan untuk tidak mengunjungi lokasi ini.

Jalan masuk menuju dusun Miyono yang belum beraspal


 Satu-satunya petunjuk jalan menuju lokasi yang dicari hanya ini :

Papan yang tampak hanya bila kecepatan dibawah 30 km/jam, lebih dari itu dijamin kelewatan


Dan yang mengasyikkan, ternyata jalan menuju lokasi sangatlah menthit atau jauh dari pemukiman. Sepanjang dua kilometer track simulasi gelombang lautan, tidak ditemui orang seekorpun. Jadi, kondisi kendaraan (terutama ban) memang harus prima, jika bocor, cukup mrongos  menuntut kendaraan ditengah padang yang panas itu.
Nah, akhirnya, lokasi yang dicari berhasil ditemukan. Tidak seperti yang dibayangkan semula, ternyata di lokasi itu terdapat pula situs Makam Ki Ageng Darmoyono, yang dipercaya sebagai leluhur desa Miyono. Makam beliau diapit oleh dua pohon Jati Raksasa, sehingga lokasi ini juga dinamakan Makam Jati Kembar

Jreeeenngg ... Makam unik ditengah padang sawah dan rimbun hutan jati


Hal yang menarik dari bangunan makam ini, bahan baku pembangunan makam sebagian menggunakan batu candi Miyono yang ditemukan pada bulan agustus 2010.

Makam Ki Ageng Darmoyono


Struktur lantai makam yang dibangun dengan bata candi Miyono


Sisa Artefik dan Bagian Kemuncak Candi


Tidak diketahui dengan jelas, siapakah sebenarnya Ki Ageng Darmoyono itu. Orang-orang sekitar hanya meyakini bahwa beliau ini salah satu pengikut Syeh Jangkung yang terkenal karena perselisihannya dengan Sunan Kudus. Tapi ada pula yang mengatakan kalau Ki Ageng Darmoyono jauh lebih tua dibandingkan dengan Syeh Jangkung. Entahlah mana yang benar ... ah, yang penting adalah blusukan !.
Ok, kita lanjut lagi .... hanya sekitar 30 meter arah barat makam ini, terletaklah mushalla Ki Ageng Darmoyono. Mushalla ini tepat bersisian dengan situs Candi Miyono yang diburu di hari itu ....

Mushalla Ki Ageng Darmoyono, Situs Candi tepat di sampingnya


Berikut parade foto-foto di lokasi :

Pak Alias (Pak Sukahar) menunjukkan struktur candi yang masih terkubur


Ukuran batu bata yang cukup besar panjang sekitar 40 cm lebar 30 cm


Test pit yang terletak di sebelah barat mushalla


Test pit di sebelah timur Mushalla


Melihat keletakan situs, diperkirakan luas candi ini adalah 30 meter x 40 meter, dan masih banyak batu bata berukuran besar yang masih terpendan di tanah sawah di sekitar situs. Menurut pak Sukahar, setelah bulan puasa, penggalian situs ini akan diperluas lagi sampai tampak seluruh struktur candi yang masih terpendam ini.

Beberapa bata yang diangkat ke permukaan, dikumpulkan di sebelah selatan mushalla


Perbandingan batu bata dengan orang


Menurut informasi dari hasil browsing, candi yang baru ditemukan ini bercorak agama hindu dengan ditemukannya arca mahakala. Arca ini menurut informasi tersimpan di rumah bapak Soewadi yang dipercaya untuk merawat benda-benda temuan itu. Arca Mahakala ini pernah disimpan di Kantor Kabupaten, tetapi karena tidak dirawat, patung tadi diminta kembali oleh warga dan disimpan di rumah bapak Soewardi. Sayangnya, sewaktu mampir kesana, bapak soewardi sedang tidak di rumah.
Kemudian, motor bergerak menuju rumah bapak Soekardi, selaku juru kunci makam Ki Ageng Darmoyono. Beliau banyak bercerita mengenai lokasi itu, dan diceritakan pula bahwa sejak jaman jepang sampai dengan sekarang, masih sering ditemukan peralatan-peralatan perunggu baik yang masih utuh maupun yang sudah rusak. Tetapi yang paling sering ditemukan adalah jenis mata uang kepeng cina. Orang-orang setempat menamakannya "Yatra Kenthang".


Pak Juru Kunci : Bapak Soekardi, berusia lebih dari 80 tahun


Mata Uang "Yatra Kenthang", masih dipergunakan pada masa pra pendudukan jepang sebagai mata uang. Sering ditemukan di sekitar kampung


Setelah bercengkerama dengan pak soekardi, perjalanan dilanjutkan menuju ke kudus. Dengan harapan supaya sampai di kudus bertepatan dengan buka puasa ..... uh, leher terasa tercekik, serasa perjalanan melintasi Sahara ..... Sampai jumpa di perjalanan berikut. NYANDI BUKANLAH CANDU, TAPI MEMBUAT KETAGIHAN AKUT !