Kamis, 30 Agustus 2012

Kembali menyambangi Candi Miyono (17 September 2011)

Hari Sabtu, 17 September 2011.

Seminggu pertama setelah melewati liburan panjang di Jogja, dan seperti biasa, ritual bangun kesiangan setelah semalam bergumul dengan mimpi menjadi koki masak. Pagi hari, jam 09.00 WIB, Segala persiapan perburuan situs kuno sudah masuk ke dalam tas pada malam sebelumnya. Dari koran jawa pos hari jumat, 16 September 2011, aku membaca berita tentang kegiatan ekskavasi candi Miyono yang berlangsung dari tanggal 12 September sampai dengan 19 September 2011. Menurut informasi, hasil penggalian terkini telah berhasil menemukan bentuk pondasi candi induk dan candi perwara. ah, tentu menarik sekali menjadi acara hari libur dengan kembali menghampiri candi miyono untuk ketiga kalinya.
Setelah mandi secukupnya (alias sikat gigi, cuci muka, dan ritual diatas kakus secukupnya), aku langsung berangkat dengan diantarkan oleh "Si Belalang Tempur" alias motor grand butut '92 yang selalu siap berpetualang bersama tuannya. Cuaca hari itu kebetulan sangat bersahabat, panas juga nggak, hujan juga enggak. Singkat kata, suasana memang sangat cocok untuk menggelindingkan Si Belalang Tempur menjelajah ke Kayen.

Perjalanan ditempuh dalam waktu kira-kira satu jam dengan kecepatan rata-rata 50 km/jam saja. Plus berhenti dua kali untuk sekedar makan pagi dan membeli rokok sebagai teman ngobrol dengan tim Balai Arkeologi di lokasi. Rute yang ditempuh : Kudus - Pertigaan Bulung - Jalan Raya Bulung - Kayen - lurus saja - Pertigaan Tambak Romo - Desa Miyono - Makam Ki Ageng Darmoyono.
Rute jalan desa miyono menuju lokasi candi miyono sepanjang 2 km sudah diperkeras secukupnya dengan batu-batu kapur yang memang mudah ditemukan di lokasi ini. Sepanjang jalan 2 km sudah mulai banyak petani yang mempersiapkan lahannya untuk ditanami, karena bulan september diperkirakan masuk musim pancaroba dengan ditandai 2 kali hujan besar yang mengguyur pantura beberapa hari sebelumnya.

Lokasi Ekskavasi pada hari Sabtu 17 September 2011

Tiba di lokasi, Banyak tenaga kerja yang dilibatkan dalam ekskavasi ini, dengan sebagian besar melibatkan tenaga petani desa setempat. Di bandingkan dengan kunjunganku yang terakhir, bentuk pondasi sudah mulai tampak. Ketika sampai di lokasi, aku disambut dengan obrolan yang sangat bersahabat dari tim Balai Arkeologi Yogyakarta. Dua orang tim yang mengajakku ngobrol adalah Mas Bagus dan Bapak Gunadi selaku pemimpin ekskavasi. Dari bapak Gunadi lah, aku mendapatkan informasi yang cukup komplit mengenai perkiraan bentuk candi ini. Menurut beliau, penemuan candi ini mempunyai arti yang penting. Candi-candi yang ditemukan di pantura bisa menjadi penyambung mata rantai yang hilang tentang sejarah masuknya agama hindu dan buddha dari wilayah pesisiran utara jawa yang akhirnya meresap jauh ke selatan jawa. Usia candi ini belum dapat diperkirakan, bisa masuk pada masa awal masa hindu-buddha atau bisa masuk pada jaman majapahit. Dari sekedar obrolan santai tadi, ada yang berharap semoga prasasti peresmian candi ini berhasil ditemukan.

Bapak Gunadi Sang Team Leader ... Ngobrol2nya sangat asyik !!


Menurut pak Gunadi, kalau berhasil menemukan prasastinya, akan menjadi suatu keberuntungan yang luar biasa. Lingga dan yoni candi ini sudah sulit dilacak keberadaannya, karena sudah dipindahkan ke kawedanan Kayen pada tahun 1975. Setelah melewati pergantian pemegang kepemimpinan, kedua benda penting itu tidak tercatat siapa yang menyimpannya. Untuk arca masih lebih beruntung, karena masih disimpan di rumah pemuka warga setempat bersama dengan temuan-temuan penting lainnya berupa lampu blencong perunggu, perhiasan, tembikar dan lain-lain.

Pak sukahar (pak alias) dan struktur candi miyono


Lokasi yang sama setelah digali


Candi Utama dipotret dari selatan masjid


Menurut perkiraan pak gunadi, kemungkinannya tipis untuk berhasil menemukan prasasti. Lokasi penempatan prasasti biasanya ada di pojok pagar candi, padahal pagar candi bisa dikatakan sudah banyak mengalami pembongkaran di masa lalu. Ditambah dengan kondisi candi yang terkubur hanya dalam kedalaman 70 cm dari permukaan tanah. Tapi, sampai sekarang, belum ada laporan yang tercatat mengenai penemuan prasasti oleh warga. Jadi, semoga saja prasasti itu masih ada sehingga dapat ditentukan kapan candi ini diresmikan .... semoga

Candi Perwara I (barat Masjid Miyono)


Candi Perwara I dipotret dari arah selatan

Ukuran candi induk diperkiran berukuran 7 x 7 meter persegi dan candi perwara berukuran 4,5 x 4,5 meter persegi. Posisi candi perwara ini tepat berhadapan dengan candi induk (tepat di sebelah barat candi induk). Kemungkinan masih ada dua candi perwara lagi yang belum ditemukan. Candi ini pasti bersifat hindu dengan ditemukannya arca Siwa pada tahun 90-an, tergeletak di dekat sungai yang ada di sebelah utara candi. Sampai dengan hari ini, belum dapat dipastikan lokasi pintu masuk candi, karena sebagian candi induk berada di bawah masjid yang baru 80% selesai dibangun.

Sebagian Struktur candi yang berada di bawah serambi masjid


Struktur Candi Utama dipotret dari serambi masjid


Struktur candi utama dipotret dari sebelah barat


Temuan yang menarik pada hari itu, berupa pecahan-pecahan gerabah yang hanya terkubur di kedalaman 40 cm dari permukaan tanah. Temuan ini sempat menarik beberapa warga untuk melihatnya dari dekat. ok, ini fotonya :

Temuan Gerabah dari barat candi utama


Proses penggalian ini selanjutnya akan dikaji kemungkinannya untuk penggalian yang lebih luas. Sebagai catatan, beberapa temuan pecahan kecil juga ditemukan di sungai yang ada di utara situs ini. Candi ini sampai sekarang belum ditemukan batas pagarnya dan harapannya bisa digali pada skala penggalian yang lebih luas. Penggalian ini tetap memberdayakan masyarakat, sehingga dalam proses penggalian ini, sebelumnya ada rembug desa yang membahas perlu atau tidaknya situs ini digali. Kesanggupan dan kesungguhan masyarakat untuk menjaga situs ini adalah kunci utama pelestarian situs kuno ini.

Struktur tangga (?) di sebelah barat candi perwara


Ok, sampai di sini dulu ... pemberontakan sudah menghebat dari dalam perut. Setelah berpamitan seperlunya, bergeraklah belalang tempur menuju bank .... eh, warung terdekat untuk memangsa beberapa lele bakar yang kurang beruntung terpilih sebagai penghuni perutku. Selesai makan, dan menghisap rokok secukupnya, perjalanan dilanjutkan untuk kembali ke kudus ....... ok ........ sampai jumpa di petualangan berikutnya.

CANDI ORA LUNGO NGENDI-ENDI .... NYANDI ITU NYANDU !!! (Meminjam istilah @cuk riomandha)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar