Kamis, 30 Agustus 2012

TUKMAS, PRASASTI NUANSA COKLAT BISKUIT

Wednesday, October 5, 2011 at 9:52pm

(Foto-foto dari note ini diambil dari kamera mas cuk riomandha, karena ketika mengunjungi situs ini bersama mas cuk, aku tidak punya kamera !)

Bermula dari “legenda” yang berulang-ulang ditulis di buku pelajaran SD dan SMP, nama Tukmas menjadi biang penasaran tersendiri. Setelah ketemu dengan BOL BRUTU, keinginan lama itu timbul kembali, karena baru sekali ini ketemu dengan grup yang hobi memburu batu.

Hanya berbekal informasi singkat di buku sejarah SD yang sekarang menjadi rumah dinas rayap-rayap pemangsa kertas dan situs website BP3, dinyatakan bahwa batu legendaris itu ada di dusun dakawu, desa lebak, kecamatan grabag, magelang. Dari situs kanjeng kyai google yang bermata dewa, didapatkan koordinat lokasi desa lebak yang ternyata tidak jauh dari rumahnya Rafael.

Pencarianpun tak berlangsung lama, setelah melalui proses penyidikan beberapa warga dengan melibatkan piranti kekerasan (maksudnya kompressor untuk memompa ban belakang yang gembos) untuk menuju lokasi, prasasti legendaris itu pun ketemu. Lokasi yang fantastis, perbukitan hijau yang dikelilingi rumpun-rumpun mendong yang baru saja ditanami, pemandangan gunung para dewa yang dihampari rerrumpunan hijau yang bergoyang oleh nafas para dewa dari langit (halah, sok puitis ! …. Pret ah). Lokasi ini cocok sekali untuk berburu ilham nomer atau mengobati pikiran sedang ruwet…. Hehehe. Jalan setapak yang cukup mepet untuk satu mobil pun diterjang dengan kekhawatiran tidak bisa memutar arah mobil untuk kembali. Ternyata di depan lokasi prasasti tukmas malah cukup luang untuk parkir beberapa mobil.

Mobil merah membelah rerumputan hijau

Tetapi ternyata kami belum cukup beruntung untuk ekspedisi pertama, karena lokasi prasasti menjadi satu lokasi dengan PDAM Kalimas dan kuncinya dibawa pak alias (pak diyar) yang sekaligus juga karyawan PDAM. Kiranya tidak bijaksana bila berlagak menjadi atlet loncat galah untuk masuk ke lokasi yang dikelilingi kawat berduri.

Dua minggu kemudian, aku dengan mas cuk mengulangi lagi ekspedisi ini. Mas Rafael pamit tidak bisa ikut karena ada turnamen golf, doi memang hobi jadi organiser orang maen golf, tidak ada batu … bola golf pun jadi.

Pak Diyar dengan antusias menerangkan hal-ihwal prasasti tukmas menurut versi beliau. Batu yang ukurannya cukup besar itu tampak luar biasa, seksi, coklat muda, agak basah, mulai tumbuh kerutan, bibir agak pecah-pecah dan jika dijilat mungkin ada rasa biskuit stroberi sekaligus pedas ala merica (karena ada semut merah berbaris di atas batu).

tampak renyah dan basah .....


sudah bertahun-tahun keinginan untuk bertemu batu legendaris ini, baru terwujud di usiaku yang kepala tiga yang beranjak ke kepala empat. Batu coklat biskuit agak basah dengan lambang-lambang hindu tertua di jawa yang berdasarkan analisa ahli paleografis, usianya kira-kira 1500 tahun. Di lokasi prasasti ini terdapat mata air yang sekarang di kelola PDAM dan debitnya tidak pernah surut.

Kalimas Compagnie ... and always blue !


Ribuan tahun yang lalu, mata air ini selalu mengalir memberi penghidupan para leluhur-leluhur yang tak dikenal hingga era milenium ini. Mata Air ini memang layak untuk dihormati, karena dalam alam pikiran jawa, mata air disamakan dengan ketuban sang ibu yang memberi kehidupan kepada manusia. Air adalah unsur pertama dari hidup dan titik tolak pertama dari filosofi “sangkan” atau "asal". Para pande keris jaman dulu menggunakan air dari tuk (mata air) atau tempuran sungai sebagai sarana untuk “nyepuh” keris-keris buatannya. “Nyepuh” adalah proses pemanasan keris yang hampir jadi, pada suhu sekitar 800 derajat Celcius (membara warna merah tua) dan dimasukkan kedalam air dengan tujuan teknis untuk memperkuat bilahnya. Tujuan filosofisnya adalah penggabungan empat unsur sangkan-paran untuk penciptaan itu sendiri, yaitu api, air, batu (mewakili tanah) dan udara. Air dari Tuk adalah simbol dari air ketuban sang ibu, batu lumpang wadah air untuk nyepuh sebagai simbol dari rahim sang ibu, udara pemanas ububan sebagai simbol ruh atau nafas, api dari arang sebagai simbol dari kehendak si jabang bayi atau kehidupan itu sendiri (energi).



Gambar yang diukir di batu coklat basah ini juga menarik, di sudut kiri atas ada gambar yang menyerupai alat pertanian yang mirip bendho (pencacah rumput) dan sebuah senjata tikam pendek (prototipe keris ?). Yang dibagian tengah terdapat gambar bagan yang tidak kupahami maksudnya, dan disusul gambar kapak dan senjata mirip gada.

Promosi korporat yang sebaiknya jangan ditiru


di bagian paling kiri terdapat gambar roda (cakra ?), dan berikutnya sebuah benda yang mirip kerang yang difungsikan sebagai alat musik. Dibawahnya ada tambahan prasasti kontemporer dari PT Madiyo – Magelang.

Semacam tidak mampu kubaca


 




Hasil kajian para ahli berupa transkripsi yang disusun dari empat baris sajak, sebagai berikut:
(itant) uśucyamburuhānujātā
Kwacicchilāwālukanirgateyam
Kwacitprakĩrnnā śubhaśĩtatoyā
Samprasratā m(edhya) kariwa gańgā   
Terjemahan sajak yang terdiri dari empat baris tersebut adalah, Bermula dari teratai yang gemerlapan dari sini memancarlah sumber air yang mensucikan, air memancar keluar dari sela-sela batu dan pasir, di tempat lain memancar pula air sejuk dan keramat seperti (sungai) Gangga.

Di bagian paling kanan terdapat gambar 4 buah padma yang mungkin melambangkan empat mata air yang sampai sekarang masih tetap mengalir deras.






di bagian belakang prasasti terdapat ukiran tambahan yang nggak ancient dari mas verijatno – solo. Menurut informasi dari pak alias, sang ”seniman” pernah diperkarakan dengan denda berat dan bonus menghuni hotel prodeo.

adegan ini jangan ditiru


Pak Diyar .... Den Alias




Nah, ini yang penting …. Mempunyai kesempatan untuk meraba prasasti legendaris ini, impian yang lama akhirnya terwujud juga. Serasa terhubung dengan masa lalu …. Sebuah kapsul waktu.

Sampai jumpa di petualangan berikut …..

===== Nyandi pangkal Nyandu, Tidak Nyandu, Nyandi kembali =====
(meminjam dan menggubah istilah dari Cuk Riomandha)

Ucapan terima kasih kepada mas Cuk Riomandha, karena kameramu dan foto2mu, ekspedisi ini dapat diabadikan, insyaallah bulan depan aku menghadap koperasi untuk kredit beli kamera, mohon doa restunya mas cuk riomandha .....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar