Selasa, 22 April 2014

PENSIL 2B (TO BE)

Dua Belas tahun meringkuk menghadap meja-meja beku.
Tekun dan rajin belajar ilmu yang tak kutahu gunanya.
hari-hari siang berisi menghitung dan menghapal.
semuanya dinilai dengan angka-angka yang tak kutahu darimana juntrungnya.
semakin hapal dan cepat menghitung, kau semakin hebat.
ah, tololnya ! bangga menjadi mesin hitung dan mesin menghapal ?.
hitung, hapal, hitung, hapal, hitung, hapal .... supaya pintar ?.

Perjalanan absurd dalam detak mekanik itu ditentukan dalam dua hari.
pertarungan dua hari dengan membuat bundaran-bundaran hitam pensil 2B.
harus hitam legam ! kalau tidak kau tidak masuk kasta lolos 2B !.
tidak boleh kurang tidak boleh lebih, hitam legam bundar sempurna !.
otakku menjadi kalkulator dan pencatat ingatan tak perlu.
nasibku ditangan pensil 2B, pensil menjadi.

dua hari dalam dua B, dua hari untuk menjadi.
kebenaran mutlak versi pembuat soal tidak dapat ditawar.
engkau berbeda, maka engkau salah, skormu berkurang satu.
engkau sama, maka engkau benar, skormu bertambah empat.
engkau tidak tahu, maka hitunglah kancing bajumu.
sejak kapan kebenaran jadi deretan angka angkuh yang seolah menentukan hidupmu ?
padahal jawabmu hanya berupa lingkaran hitam legam ?.
sama legamnya dengan masa depan yang tak tentu itu.
masa depan yang kau tulis dengan pensil 2B, pensil menjadi.

hari kedua ini dari dua hari pensil dua B, adalah pertunjukan komedi,
karena begitu tololnya aku menghamba kepada bundar hitam.
bundar-bundar hitam yang akan masuk pengadilan mesin scanner.
mesin scanner yang menentukan aku akan menjadi apa.

Tolol !

(Rabu, 22 Juni 1994, Gedung Sastra UGM, dalam sebuah pertunjukan komedi UMPTN)
SELAMAT PAGI KEKASIH

pagi bertambah satu,
embun pagi masih malas menetes satu-satu,
si kenari masih termangu sebelum berkicau,
apa kabar belahan hati ? pagi menunggumu,

tujuh belas warsa telah berlaku,
masih ingatkah wahai kekasih hatiku ?
ketika engkau melantunkan bait kelahiranmu ?
yang menyeruak pagi dengan segenap kegembiraanmu ?

bayi mungil itu menapaki hari sambil tersipu,
merentangkan tangan untuk segenap hati yang memujamu,
melangkahkan kaki menapaki waktu,
merenda mimpi dengan renjana di setiap lipatan kalbumu,

pagi menyapamu seperti tujuh belas warsa yang lalu,
mengajakmu bangkit menyambut waktumu,
mekar tebarkan wangi rona cintamu,
menjadi bianglala yang memberi warna cakrawala itu,

Selamat ulang tahun kekasihku,
rentangkan sayapmu dengan segala keanggunanmu,
teriring serangkai doa untuk segala harapmu,
semoga mentari itu semakin bersinar dalam meniti waktu,

(Jogja, 15 Desember 1975 - 15 Desember 1992)

~marwan ardiansyah~
aku mencintaimu,
seperti permen yang melarut dalam mulut hangatmu
aku mencintaimu,
seperti rintik hujan yang mereda untuk merenda pelangimu
aku mencintaimu,
seperti mentari pagi yang menyapa hangat titik embun
aku mencintaimu,
seperti setanggi yang menjadi abu untuk persembahan semerbak wangi

cinta, lihatlah, engkau membuatku mencinta, menjadikan derita menjadi bermakna, menjadikan batu-batu gersang rela menjadi debu untuk tumbuhnya kuncup-kuncup bunga .....

~marwan ardiansyah~
(dalam sebuah kamar nan senyap, 15 Januari 1993)
apa itu cinta ?
setiap menanyakan apa, kemudian bagaimana tertangguhkan

apa itu cinta ?
aku tidak tahu

bagaimanakah cinta ?
ketika kerlingan mata indah itu membuatku lupa caranya berpikir

bagaimanakah cinta ?
ketika diri menjadi daun yang pasrah oleh hempasan dan aliran lembut sungai bening itu

~marwan ardiansyah~ medio 1992

Minggu, 16 September 2012

Situs Kedaton Ratu Kalinyamat (Blayangan ke Kalinyamatan)


Sabtu, 15 September 2012

Musim kemarau yang kering, sempat terbersit rencana untuk ekspedisi ke Situs Megalithik Candi Angin di Puncak Muria. Setelah mempertimbangkan badan yang kurang fit dan memang lagi malas, Rencana tiba-iba berubah untuk melanjutkan perburuan situs-situs Ratu kalinyamat. Kali ini, tujuannya mencari situs lokasi kedaton Ratu Kalinyamat yang ada di kecamatan kalinyamatan. Dari browsing, didapatkan informasi yang cukup menggembirakan dari tulisan Ibu Chusnul Hayati dari Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Semarang. 
Tulisan itu berisikan laporan P.J. Veth (1912) yang mencatat bahwa Kalinyamat pernah menjadi tempat kedudukan Ratu Jepara, suatu tempat yang ditemukan jejak-jejak atau bekas kebesaran masa lalu. Meski pun penduduk setempat dan para pegawai sama sekali tidak tahu  tempat yang tepat dari  bekas istana, tetapi setiap orang berbicara mengenai Ratu Kalinyamat.  Di berbagai desa seperti Purwogondo, Robayan, Kriyan, dan tempat-tempat lain terdapat legenda mengenai Ratu Kalinyamat. Ada dugaan Krian mungkin merupakan tempat para "rakriya" (para bangsawan). Beberapa tempat di daerah ini masih bernama Pecinan, padahal tidak ada lagi orang Cina yang bertempat tinggal di situ. Kemudian diketahui bahwa desa Robayan dan beberapa desa lainnya masih memakai nama Kauman.

Di tempat-tempat tertentu orang masih menyebutnya dengan nama Sitinggil (Siti-inggil), yang terletak di tengah-tengah tanah tegalan. Di situ ditemukan dinding tembok dari kraton lama yang diperkirakan panjang kelilingnya antara 5-6 km persegi. Di sana sini terdapat benteng yang menonjol ke luar. Batas-batas dari kraton kira-kira meliputi sepanjang jalan besar Kudus, Jepara, Kali Bakalan, yang pada tahun 1900-an merupakan garis batas antara onderdistrik Pacangaan, Welahan, dan Kali Kecek. Di kebanyakan tempat, tembok-tembok kraton itu masih dalam kondisi yang bagus. Di suatu tempat yang disebut Sitinggil, memang ditemukan bangunan batu bata yang ditinggikan, sementara di  tempat lain menunjukkan  adanya tempat mandi. Dengan melalui penggalian percobaan di beberapa tempat dapat ditemukan adanya dinding-dinding benteng yang sangat berat yang memanjang sampai beberapa ratus meter. Di tempat itu juga ditemukan fondasi-fondasi yang terbuat dari batu bata yang lebih kecil ukurannya dari pada emplasemen Majapahit. Batu-batu bata ini telah diambili  dan dimanfaatkan oleh penduduk.

Di samping itu P.J. Veth memperoleh temuan penting dari berita Portugis mengenai "Cerinhama" atau "Cherinhama" yang disebut sebagai ibukota sebuah kerajaan laut atau kota pelabuhan Jepara yang terletak 3 mil atau kira-kira 12,5 pal ke pedalaman. Di tempat itu lah letak reruntuhan kraton Kalinyamat yang menjadi tempat kedudukan atau peristirahatan Ratu Jepara. (Veth III, 1882 : 762).

Diperkirakan bahwa selama menjadi penguasa Jepara, Ratu Kalinyamat tidak tinggal di Kalinyamat, akan tetapi di sebuah tempat semacam istana di kota pelabuhan Jepara. Sumber-sumber Belanda awal abad ke-17 menyebutkan bahwa di kota pelabuhan terdapat semacam istana raja (koninghof). Hal ini berarti bahwa Ratu Kalinyamat sebagai tokoh masyarakat bahari memang tinggal di kota pelabuhan, sementara itu daerah Kalinyamat hanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan.

So, berita-berita dari 100 tahun lalu itu sungguh menggembirakan. Sesampainya di lokasi yang ditujuk, informasi dari masyarakat juga membuat makin semangat untuk mencari situs itu. Nah, ini foto udara mengenai lokasi yang diduga merupakan salah satu keraton Ratu Kalinyamat :

Lokasi Kriyan, tempat sitihinggil kalinyamat berada (wikimapia.org)


Lokasi Sitihinggil yang terletak di tegalan kosong (wikimapia.org)

Lokasi yang ditunjukkan oleh warga, ternyata jauh dari apa yang kubayangkan. Lokasi yang dulu pernah digali seratus tahunn lalu, sekarang tinggal gundukan tanah yang menggunung dan di sekitar lokasi menjadi tempat membuang sampah dan tempat membakar sampah warga. Industri pembuatan bubuk bata juga makin mempercepat hilangnya situs yang dulu pernah digali. Tapi, mungkin situs ini dulu memang sengaja ditimbun kembali sampai berupa gundukan tanah dengan maksud untuk mengamankan situs itu sendiri, terutama untuk menyelamatkan situs sitihinggil.

Gundukan tanah yang disebut warga sebagai Sitihinggil


Contoh batu bata kuno (?) yang masih ditemukan di permukaan gundukan


di gundukan itu masih ditemukan beberapa pecahan yang dicurigai sebagai bata kuno. Gundukan ini menurut pengamatan sekilas dari permukaan, tampaknya memang mengandung batu bata terpendam dalam jumlah banyak. Warga sekitar tidak berani membongkar gundukan itu, kebanyakan karena alasan yang umum : takut kuwalat. Alasan ini juga ada positifnya, sehingga sepetak tanah kosong itu tidak dihuni sampai sekarang. Jika ingin mengunjungi tempat ini, silakan menuju ke kecamatan kalinyamatan (juga terdapat situs makam ari-ari RA Kartini), dan bisa meminta informasi desa kriyan (pusat kerajinan monel), sampai di desa kriyan, hampir setiap orang tahu lokasi siti inggil ini. Lokasi ini tepat berada di belakang SMP Islam Sultan Agung 2.

Plang penunjuk desa kriyan, pusat kerajinan monel


Setelah puas menengok situs yang diduga sebagai lokasi siti hinggil Kedaton Kalinyamat, perjalanan dilanjutkan ke 2 km selatan situs sitihinggil, yaitu "Kutho Bedhah". Lokasinya sekitar 3-4 km ke arah barat daya sitihinggil. Menurut informasi dari wikipedia, kata "kutho bedhah" ini berasal dari kenangan masa clash II ketika masjid robayan dijatuhi bom pesawat belanda, tetapi bom itu meleset dan jatuh di desa robayan dan lokasi itu kemudian disebut sebagai "kutho bedhah". Terus terang saya tidak percaya informasi itu. Terlalu berlebihan bila desa kecil pada tahun 40-an, setelah di bom belanda, kemudian menjadi "kutho bedhah", kok tidak dinamakan "desa bedhah" ??
Sampai di lokasi, secara tidak sengaja saya bertemu dengan bapak yanto (mantan tentara, tidak mau difoto). Ketika saya bertanya perihal "kutho bedhah", rupanya beliau juga membenarkan kisah itu dengan semangat dan yakin kalau nama itu berkaitan dengan masa clash II. Entahlah, informasi itu diceritakan dg sangat bertubi dan makin memperbesar keraguanku akan kisah itu. Menurut penduduk muda yang lain, malah tidak tahu asal usul nama "kutho bedhah". Akhirnya ... ketemu dengan bapak Suradi yang berusia sangat sepuh, informasinya berlainan : "kutho bedhah" sudah dikenal sejak jaman "normal" artinya sebelum terjadi clash II dan sebelum jaman jepang, artinya, nama itu mungkin mengingatkan suatu peristiwa besar di masa lalu jauh sebelum tahun 1940-an. Mbah suradi sendiri mengatakan, sejak eyangnya mbah suradi masih hidup, "kutho bedhah" sudah dikenal turun temurun, tanpa bisa menceritakan kenapa diberi nama "kutho bedhah".
Menurut De Graaf (kerajaan islam pertama di jawa, halaman 122) : sepeninggal Sultan pajang pada 1588, terbukalah kesempatan senapati untuk memperluas kekuasaannya. Ada kemungkinan, serangan laskar Mataram yang sudah diperkirakan itu datang pada tahun 1599 (dalam buku "Awal Kebangkitan Mataram" disebutkan bahwa perlu 3 kali serangan besar untuk menundukkan jepara karena diperkuat dengan tembok-tembok benteng) dan berakhirlah pemerintahan Pangeran Jepara. Dalam suatu surat berbahasa belanda tahun 1615 (Colenbrander, Coen, jilid VII, hlm. 45) terdapat kata-kata destructie (penghancuran) kota jepara. Serangan Mataram dari pedalaman ke kota-kota pelabuhan pesisir yang makmur mengakibatkan kerusakan berat.
Pada masa itu, penghancuran suatu kota, biasanya diikuti dengan penghancuran sarana pertahanan militer seperti yang dialami oleh Tuban, Pati, Surabaya. Orang-orang yang melawan dibunuh, yang menyerah dijadikan tenaga kerja budak di pedalaman ... saya rasa, peristiwa besar "Kutho Bedhah" mungkin sekali berkaitan dengan peristiwa serangan besar 1599 yang mengakibatkan kejatuhan Jepara. Tapi ada satu bangunan megah kota jepara yang tidak turut dihancurkan, yaitu sebuah masjid (?) yang berbentuk pagoda yang masih sempat diabadikan dalam lukisan tahun 1660 :

Moskee te Djapara in 1660, Midden-Java (www.kitlv.nl)


tanggul yang mungkin dulunya benteng yang diperkuat dengan tembok bata


tanggul "alami" yang sudah diperkuat lagi oleh warga dengan tanggul baru (panjang tanggul kuno ini 1 km dan nyaris lurus)


bata kuno dan korek jres ... sahabat setia anda !

melihat kontur "alami" ini saya membayangkan, tentunya ini adalah kota yang dipertahankan dengan baik, tingginya tanggul sudah menggambarkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi ketika menyerbu kota bagian selatan ini. Di masa sekarang, untuk masuk ke "kutho bedhah" perlu menggunakan persneleng 2 plus gas yang kencang untuk mendaki (honda grand 1992). Setelah selesai mendaki, kutho bedhah ini sangat landai konturnya.
Banyak warga yang memanfaatkan bata-bata kuno di kutho bedhah untuk bangunan dan paling banyak digunakan sebagai bahan baku selep bata, mengubah bata kuno menjadi serbuk bata untuk bahan bangunan. Aktivitas itu sudah marak sejak tahun 1990-an dan mulai agak mereda sekitar tahun 2000-an karena sudah sulit mencari bahan baku bata. Dan memang terbukti, hanya SATU batu bata kuno yang berhasil diabadikan .... ya ndak apa2lah, lumayan sebagai obat capek dan mandi keringat seharian.

Ok, sampai disini dulu petualangan ber-solo karir BOL BRUTU di tanah kalinyamat, kisah tentang masjid robayan akan dibuat di tulisan terpisah ..... Anda Galau ? sumpeg ? ....  ingat ! BLUSUKAN adalah KUNCI ! (Terinspirasi monolog DN Aidit dalam film "Pengkhianatan G-30-S PKI karya Arifin C Noor)

Kamis, 30 Agustus 2012

TUKMAS, PRASASTI NUANSA COKLAT BISKUIT

Wednesday, October 5, 2011 at 9:52pm

(Foto-foto dari note ini diambil dari kamera mas cuk riomandha, karena ketika mengunjungi situs ini bersama mas cuk, aku tidak punya kamera !)

Bermula dari “legenda” yang berulang-ulang ditulis di buku pelajaran SD dan SMP, nama Tukmas menjadi biang penasaran tersendiri. Setelah ketemu dengan BOL BRUTU, keinginan lama itu timbul kembali, karena baru sekali ini ketemu dengan grup yang hobi memburu batu.

Hanya berbekal informasi singkat di buku sejarah SD yang sekarang menjadi rumah dinas rayap-rayap pemangsa kertas dan situs website BP3, dinyatakan bahwa batu legendaris itu ada di dusun dakawu, desa lebak, kecamatan grabag, magelang. Dari situs kanjeng kyai google yang bermata dewa, didapatkan koordinat lokasi desa lebak yang ternyata tidak jauh dari rumahnya Rafael.

Pencarianpun tak berlangsung lama, setelah melalui proses penyidikan beberapa warga dengan melibatkan piranti kekerasan (maksudnya kompressor untuk memompa ban belakang yang gembos) untuk menuju lokasi, prasasti legendaris itu pun ketemu. Lokasi yang fantastis, perbukitan hijau yang dikelilingi rumpun-rumpun mendong yang baru saja ditanami, pemandangan gunung para dewa yang dihampari rerrumpunan hijau yang bergoyang oleh nafas para dewa dari langit (halah, sok puitis ! …. Pret ah). Lokasi ini cocok sekali untuk berburu ilham nomer atau mengobati pikiran sedang ruwet…. Hehehe. Jalan setapak yang cukup mepet untuk satu mobil pun diterjang dengan kekhawatiran tidak bisa memutar arah mobil untuk kembali. Ternyata di depan lokasi prasasti tukmas malah cukup luang untuk parkir beberapa mobil.

Mobil merah membelah rerumputan hijau

Tetapi ternyata kami belum cukup beruntung untuk ekspedisi pertama, karena lokasi prasasti menjadi satu lokasi dengan PDAM Kalimas dan kuncinya dibawa pak alias (pak diyar) yang sekaligus juga karyawan PDAM. Kiranya tidak bijaksana bila berlagak menjadi atlet loncat galah untuk masuk ke lokasi yang dikelilingi kawat berduri.

Dua minggu kemudian, aku dengan mas cuk mengulangi lagi ekspedisi ini. Mas Rafael pamit tidak bisa ikut karena ada turnamen golf, doi memang hobi jadi organiser orang maen golf, tidak ada batu … bola golf pun jadi.

Pak Diyar dengan antusias menerangkan hal-ihwal prasasti tukmas menurut versi beliau. Batu yang ukurannya cukup besar itu tampak luar biasa, seksi, coklat muda, agak basah, mulai tumbuh kerutan, bibir agak pecah-pecah dan jika dijilat mungkin ada rasa biskuit stroberi sekaligus pedas ala merica (karena ada semut merah berbaris di atas batu).

tampak renyah dan basah .....


sudah bertahun-tahun keinginan untuk bertemu batu legendaris ini, baru terwujud di usiaku yang kepala tiga yang beranjak ke kepala empat. Batu coklat biskuit agak basah dengan lambang-lambang hindu tertua di jawa yang berdasarkan analisa ahli paleografis, usianya kira-kira 1500 tahun. Di lokasi prasasti ini terdapat mata air yang sekarang di kelola PDAM dan debitnya tidak pernah surut.

Kalimas Compagnie ... and always blue !


Ribuan tahun yang lalu, mata air ini selalu mengalir memberi penghidupan para leluhur-leluhur yang tak dikenal hingga era milenium ini. Mata Air ini memang layak untuk dihormati, karena dalam alam pikiran jawa, mata air disamakan dengan ketuban sang ibu yang memberi kehidupan kepada manusia. Air adalah unsur pertama dari hidup dan titik tolak pertama dari filosofi “sangkan” atau "asal". Para pande keris jaman dulu menggunakan air dari tuk (mata air) atau tempuran sungai sebagai sarana untuk “nyepuh” keris-keris buatannya. “Nyepuh” adalah proses pemanasan keris yang hampir jadi, pada suhu sekitar 800 derajat Celcius (membara warna merah tua) dan dimasukkan kedalam air dengan tujuan teknis untuk memperkuat bilahnya. Tujuan filosofisnya adalah penggabungan empat unsur sangkan-paran untuk penciptaan itu sendiri, yaitu api, air, batu (mewakili tanah) dan udara. Air dari Tuk adalah simbol dari air ketuban sang ibu, batu lumpang wadah air untuk nyepuh sebagai simbol dari rahim sang ibu, udara pemanas ububan sebagai simbol ruh atau nafas, api dari arang sebagai simbol dari kehendak si jabang bayi atau kehidupan itu sendiri (energi).



Gambar yang diukir di batu coklat basah ini juga menarik, di sudut kiri atas ada gambar yang menyerupai alat pertanian yang mirip bendho (pencacah rumput) dan sebuah senjata tikam pendek (prototipe keris ?). Yang dibagian tengah terdapat gambar bagan yang tidak kupahami maksudnya, dan disusul gambar kapak dan senjata mirip gada.

Promosi korporat yang sebaiknya jangan ditiru


di bagian paling kiri terdapat gambar roda (cakra ?), dan berikutnya sebuah benda yang mirip kerang yang difungsikan sebagai alat musik. Dibawahnya ada tambahan prasasti kontemporer dari PT Madiyo – Magelang.

Semacam tidak mampu kubaca


 




Hasil kajian para ahli berupa transkripsi yang disusun dari empat baris sajak, sebagai berikut:
(itant) uśucyamburuhānujātā
Kwacicchilāwālukanirgateyam
Kwacitprakĩrnnā śubhaśĩtatoyā
Samprasratā m(edhya) kariwa gańgā   
Terjemahan sajak yang terdiri dari empat baris tersebut adalah, Bermula dari teratai yang gemerlapan dari sini memancarlah sumber air yang mensucikan, air memancar keluar dari sela-sela batu dan pasir, di tempat lain memancar pula air sejuk dan keramat seperti (sungai) Gangga.

Di bagian paling kanan terdapat gambar 4 buah padma yang mungkin melambangkan empat mata air yang sampai sekarang masih tetap mengalir deras.






di bagian belakang prasasti terdapat ukiran tambahan yang nggak ancient dari mas verijatno – solo. Menurut informasi dari pak alias, sang ”seniman” pernah diperkarakan dengan denda berat dan bonus menghuni hotel prodeo.

adegan ini jangan ditiru


Pak Diyar .... Den Alias




Nah, ini yang penting …. Mempunyai kesempatan untuk meraba prasasti legendaris ini, impian yang lama akhirnya terwujud juga. Serasa terhubung dengan masa lalu …. Sebuah kapsul waktu.

Sampai jumpa di petualangan berikut …..

===== Nyandi pangkal Nyandu, Tidak Nyandu, Nyandi kembali =====
(meminjam dan menggubah istilah dari Cuk Riomandha)

Ucapan terima kasih kepada mas Cuk Riomandha, karena kameramu dan foto2mu, ekspedisi ini dapat diabadikan, insyaallah bulan depan aku menghadap koperasi untuk kredit beli kamera, mohon doa restunya mas cuk riomandha .....

The Great Warrior From Japara (Jung Mara)

Monday, August 15, 2011 at 8:57pm
Kota Jepara, kota yang terkenal karena kerajinan ukirnya yang mempunyai ciri khas sangat jauh berbeda dengan ragam ukiran pedalaman mataraman. Ukirannya menceritakan cita rasa masyarakat yang lebih metropolis dan dinamis pada jaman itu. Sebenarnya blusukan Bol Brutu kali ini adalah mengunjungi seorang makam seorang Ksatria hebat dari Jepara, RATU KALINYAMAT, dimana dalam buku-buku sejarah pelajaran sekolah, tokoh hebat ini kurang banyak dikupas. Sebaliknya, Sultan Agung yang hanya dua kali menyerbu batavia melalui jalan darat diceritakan dengan bertubi-tubi. Bila dibandingkan, Ratu Kalinyamat menyerbu portugis di selat malaka sebanyak TIGA kali !! Dan tentu memerlukan biaya yang lebih besar, mengingat medan pertempurannya sangat tidak dikuasai orang pedalaman : LAUT !!. Dan medan pertempuran kedua adalah daratan singapura ....
Makam Ratu Kalinyamat ada di kota Mantingan dengan arsitektural masjid yang dihiasi ukiran yang luar biasa dan menunjukkan kemuliaan beliau yang perkasa. Diam-diam aku sangat mengidolakan tokoh ini, dalam kenyataannya, pejuang wanita jauh lebih tangguh daripada pejuang pria.
Perjalanannya cukup mudah, dari arah selatan menuju jepara, ketika menemui bundaran Ngabul, ambil arah jalan cabang ke kiri (Jalan Sunan Hadirin). Teruuuuusss saja sampai nanti menemui komplek makam besar di tanah tinggi tepat di kanan jalan anda.

Gerbang masuk makam Sunan Hadirin dan Ratu Kalinyamat


Arsitektural Masjid Mantingan dan Makam Mantingan sangat khas pesisiran, yaitu menggunakan batu bata dan kualitas batubata di wilayah pesisiran memang lebih baik daripada dari daerah pedalaman. Gerbang masuk juga berbentuk gerbang padureksan atau bentuk meru

Gerbang masuk berbentuk Meru


Komplek makam ini bagian dalamnya sudah diperbaharui dengan citarasa era kolonial dengan bantuk tiang yang khas. Tidak ada keterangan, kapan makam ini dipugar pada masa kolonial itu dan siapa pemugarnya.

Serambi makam yang bercita-rasa arsitektur era kolonial


Hal yang sangat menarik ketika memasuki makam ini adalah : HIASAN DINDINGNYA ! yang terbuat dari bahan yang kualitasnya jauh lebih baik dibandingkan dengan yang ada di masjid al-manaar kudus dan kualitas tatahan yang prima. nah, ini beberapa contoh hiasan yang ditempel di makam sunan hadirin dan istrinya, Ratu Kalinyamat :

Hiasan dinding dengan ukiran sulur model majapahit


Nylempit !!


Pintu masuk cungkup makam Ratu Kalinyamat & Suaminya


Setelah selesai berdoa untuk beliau yang kukagumi, perjalanan dilanjutkan mengunjungi masjid mantingan yang terletak satu komplek dengan pemakaman ini. Oya, sebelum meninggalkan pemakaman, ada satu relik dari jaman hindu/budha yang disimpan di situs ini, yaitu sebuah Jaladwara yang disemen tepat di depan gerbang pintu masuk makam.

Sebuah Jaladwara Kuno

Masjid Mantingan ini tidak kalah dahsyat, hal yang sangat menyita mata adalah hiasannya yang luar biasa itu. Hiasan ini ditempelkan di tembok masjid merata di depan masjid. Nah, inilah foto-fotonya :

Serambi Masjid


Across The Time ....


Ok, itu sekedar pengantar dari pandangan jarak jauh, sekarang langkahkan kaki mendekat dan ....

Ragam ukiran taman sari, sering diterapkan pula pada hiasan kinatah mas keris ataupun pendok keris


Gambar seekor gajah yang tersamar ada di tengah hiasan ini


Pola Ragam hias geometris


Selesai menikmati karya maestro tempo doeloe yang dahsyat itu, kakiku melangkah masuk ke dalam masjid mantingan. Suasana sepi sekali, tidak ada seorangpun yang ada di dalam masjid .... Suasana di bagian dalam memang berbeda bila dibandingkan dengan masjid kudus, lebih sempit tetapi sisa-sisa kemewahannya masih terasa

Bagian dalam masjid yang terasa dingin walaupun diluar sangat panas


Ada satu hal yang menarik dari ukiran2 tempel ini, yaitu sebuah hiasan diatas mihrab masjid yang bertuliskan aksara jawa. Sayangnya bentuknya kurang jelas, so, jadi kufoto saja dan nanti dibaca dengan lebih tenang bersama-sama

Prasasti teracotta diatas mihrab masjid


Pertama kali Jepara turut menyerbu ke malaka pada tahun 1512-1513, tetapi serangan itu gagal dan menyebabkan Armada perang demak di Jepara nyaris hancur. Serangan kedua dilakukan tahun 1550 yang kali ini menyambut ajakan raja Johor menyerbu Malaka. Serangan kedua ini Jepara lebih bersikap mandiri, karena Demak pada waktu itu dikatakan sudah berkurang kekuatannya. Jumlah armada Jepara yang berangkat mencapai 40 buah kapal perang dan membawa 4000-5000 prajurit bersenjata. Dalam serangan besar itu, salah seorang pembesar Jawa gugur, dan ”espada e hum cris Guarnacido de ouro” (pedang dan kerisnya berhiaskan emas) jatuh ketangan kaum Kristen. Ketika pasukan Jawa melihat pemimpinnya gugur, mereka lari ke pantai dan berusaha naik kapal cepat-cepat, sehingga pertempuran dilanjutkan di darat dan di air. Dua ribu orang Jawa gugur dan seluruh perbekalan mereka hilang: ”artilleria, muniçoes, mantimentos e mais cosas”  (meriam, senapan, mesiu, bahan makanan dan lain sebagainya).

Pada tahun 1573 ia sekali lagi diajak melakukan ekspedisi dan menyerang Malaka. Kali ini oleh ”Achim tyranno, insolete e poderoso” (tiran dari Aceh yang kurang ajar dan kuat). Sekalipun ratu Jepara sangat bersemangat untuk berjuang melawan orang Portugis, armadanya tidak muncul pada waktunya. Keterlambatan ini tidak sengaja sangat menguntungkan orang Portugis. Andai kata orang Melayu dan orang Jawa menyerang bersama-sama, Malaka tidak dapat dielakkan dari kehancuran (Couto, Da Asia, IX, xvii).

Armada dari Jepara baru muncul di Malaka pada bulan Oktober 1574 (Couto, Da Asia, IX, xix). Kali ini armada itu berjumlah 300 kapal layar, 80 kapal di antaranya berukuran besar, masing-masing berbobot 400 ton. Awak kapal terdiri atas 15.000 orang Jawa pilihan, dan juga terdapat banyak sekali perbekalan, meriam dan mesiu.
Pemimpinnya, ”Regedor principal de seu Reyno” (pimpinan pemerintahan tertinggi kerajaan) disebutnya ”Quilidamâo”, mungkin salah ejaan untuk Kiai Demang (Laksamana ?). Armada itu memulai serangan dengan salvo tembakan yang seolah-olah hendak membelah bumi. Keesokan harinya jenderal Jawa mendaratkan pasukannya dan menyuruh menggali parit-parit pertahanan. Suatu serangan yang dilakukan kaum Portugis sangat mengecilkan hati pasukan Jawa. Ketika pihak Jawa melakukan serangan dengan armadanya, 30 kapal besarnya malahan terbakar. Mereka selanjutnya membatasi diri dengan blokade laut dan mendirikan rintangan-rintangan tinggi di daerah perairan. Pihak Portugis baru berhasil menembus rintangan ini setelah melakukan serangan berkali-kali. Setelah itu pasukan Jawa bersedia mengadakan perundingan, tetapi yang melakukannya bukanlah jenderal mereka melainkan seorang rohaniawan yang disebut ”dato” (datu ?). tuntutan orang Portugis dianggap terlalu berat dan ditolak. Tetapi perundingan berlangsung terus. Setelah orang Portugis dapat merampas enam kapal Jawa yang penuh dengan bahan makanan kiriman dari Jepara, pasukan Jawa, yang semula merupakan pihak pengepung, secara berangsur-angsur menjadi pihak yang dikepung. Mereka terpaksa segera melakukan gerakan mundur, sehingga memberi kesempatan kepada orang Portugis untuk menyerang, dan menimbulkan kerugian lebih berat di pihak pasukan Jawa. Dalam pada itu, kekhawatiran akan kembalinya orang Aceh yang tidak begitu disukai oleh orang Jawa itu merupakan faktor penting. Di sekitar Malaka saja dapat ditemukan 7.000 makan orang Jawa; tetapi kekalahan seluruhnya diperkirakan sebesar 2/3 dari kekuatan yang berangkat dari Jepara. Pengepungan atas pasukan Portugis berlangsung tiga bulan (Da Asia, Couto).

Komplek makam ini diselesaikan pembangunannya setelah sang pembunuh suami ratu kalinyamat, Arya Penangsang berhasil dimusnahkan oleh pasukan dari pajang. Sebuah bukti tanda cinta beliau kepada sang suami, sayangnya, beliau sampai akhir hayatnya tidak dikaruniai seorang putera pun. Sehingga pengganti tahtanya adalah Pangeran Jepara, putra Hasanuddin dari Banten. Beliau Meninggal dunia sekitar tahun 1574-1580.

Marai Ngileeeerrrr


Kerajaan Jepara berakhir setelah mengalami serangan berat berkali-kali dari Mataram, dan akhirnya jatuh pada tahun 1599 (Tiga gelombang serangan besar). Dengan demikian, berakhirlah kisah kerajaan Jepara yang hebat itu.

Ok, Sampai jumpa lagi di perjalanan berikut ..... ingat : BLUSUKAN SEHAT UNTUK KEJIWAAN ANDA !